Opini

Musibah Kebencanaan Tidak Datang dari Allah SWT

Drs. Abdurahman Rasna, MA ( Anggota Komisi Dakwah MUI Pusat dan Pengasuh Pesantren di Banten )

MUSIBAH merupakan suatu fakta kehidupan yang tidak dapat dipungkiri. Musibah biasanya muncul tanpa diduga, tiba-tiba dan menimbulkan dampak tertentu pada manusia.

Dampak tersebut bisa berupa kerusakan atau kehilangan nyawa, cacat, kehilangan harta benda dan sumber penghidupan. Intinya, dalam bahasa kita, bahasa Indonesia, musibah selalu dikaitkan dengan semua peristiwa yang menyakitkan, menyengsarakan, dan bernilai negatif yang menimpa manusia.

Musibah dalam konteks ini merupakan peristiwa yang menimpa manusia baik yang berasal dari peristiwa alam maupun sosial.

Namun, sesungguhnya, kata musibah dalam al-Quran secara umum mengacu pada sesuatu yang netral, tidak negatif atau positif. Kata musibah berasal dari kata a-shaba yang berarti sesuatu yang menimpa kita.

Dalam istilah al-Quran, apa saja yang menimpa manusia disebut dengan “musibah”, baik yang berwujud kebaikan atau keburukan bagi manusia. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Q.S. al-Hadid (57): 22-23)

See also  Bahaya Pemimpin Curang

Pada firman-Nya yang lain, Allah menjelaskan bahwa jika “musibah” yang berupa kebaikan maka hal itu berasal dari Allah, dan bila “musibah” berupa keburukan –yang kemudian disebut dengan bencana disebabkan perbuatan manusia sendiri. Allah menegaskan:

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi” (Q.S. al-Nisa (4): 79).

Musibah yang diakibatkan oleh orang-orang zhalim, ekosistem hayati dirusak. Hutan dibabat hancur ratakan atau illegal loging atas nama memaksimalkan pemanfaatan potensi sumber daya alam, penambangan yang tanpa memperdulikan dampak buruknya karena dilakukan orang-orang yang serakah  hanya untuk  mementingkan keuntungan pribadi dan kroninya yang segelintir orang dan berakibat buruk bagi lingkungan dan kesehatan.

See also  Pensiunan Unisba Kini Punya Sumber Penghasilan Baru Lewat Shopee Affiliate

Jika musim hujan turun, air langsung mengalir ke lembah ke hilir tanpa diserap akar-akar pepohonan, tak tertampung di cekungan, pasti berakibat banjir besar yang dampak buruknya menimpa orang lain, bukan hanya kepada pelaku pengrusakan lingkungan.

Kita menyaksikan betapa dahsyatnya musibah banjir yang menghancurkan sendi kehidupan di Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, bahkan ada sekira empat  kampung hilang terseret musibah banjir besar.

Padahal dalam hal ini Allah sudah mengingatkan kita melalui firnan-Nya :

واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموامنكم خاصة واعلموا أن الله شديد العذاب.

“Dan hendaklah kamu takwa dan merasa takut terhadap cobaan yang dampaknya musibahnya tidak hanya khusus dirasakan oleh orang-orang yang zhalim diantara kalian. Dan ingatlah bahwa sesungguhnya azab Allah itu amat sangat dahsyat.”(QS. Al Anfal ayat 25)

Berdasarkan penjelasan tadi, al-Quran juga secara jelas dan sempurna menguraikan bahwa tidak semua musibah adalah bencana. Musibah yang disebut bencana dan bermakna negatif adalah musibah yang mendatangkan keburukan bagi manusia dan hal itu merupakan hasil dari perbuatan manusia sendiri juga, bukan dari Allah, meskipun secara kasat mata musibah itu terjadi di alam. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (Q.S. al-Syura (40): 30)

See also  Membedah Spritual Complacency

Ketika musibah diartikan dengan penilaian yang negatif (mendatangkan keburukan) maka manusia dianjurkan untuk memaknainya dengan mengembalikan “esensi” peristiwanya kepada Allah.

Dengan demikian, dalam konteks ini, manusia harus menyadari sepenuhnya bahwa dirinya hanyalah “pelaku dan penerima” cobaan Allah berupa sesuatu yang dinilai tidak baik tersebut. Allah menyatakan:

اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.( Q.S. al-Baqarah (2): 156)

Dengan memahami arti kata musibah seperti itu maka musibah yang bernilai negatif merupakan salah satu cobaan dan ujian berupa keburukan.

Dalam al-Quran cobaan dan ujian tersebut disebut dengan istilah bala’ sebagaimana firman Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.(Q.S. al-Baqarah (2): 155)

Di samping berfungsi sebagai ujian dan cobaan yang berupa keburukan, bala’ juga merupakan ujian dan cobaan yang berupa kebaikan.

Demikian makna musibah  dari perspektif Islam.**

Show More

Related Articles

Back to top button