Opini

Sya’ban Sebentar Lagi Hilang, Ramadan Pasti Datang

Drs. Abdurahman Rasna, MA ( Anggota Komisi Dakwah MUI Pusat dan Pengasuh Pesantren di Banten )

BULAN Ramadan tinggal beberapa hari yang terhitung, sekitar sembilan belas hari  lagi kita akan menghadapi bulan yang mulia tersebut.

Ia adalah bulan yang sangat berkah, bulan yang disediakan Allah SWT sebagai  tempat orang-orang yang berlomba-lomba menginginkan akhirat. Pada  bulan itu sangat dianjurkan banyak beribadah kepada Allah.

Di bulan itu Allah mudahkan orang-orang yang menginginkan surga untuk beramal salih. Karena di bulan itu pintu-pintu surga dibuka. Demikian pula pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan pun dibelenggu.  Maka sungguh merugi mereka yang melewati bulan Ramadan dengan perkara yang sia-sia, lalu kemudian keluar dari bulan Ramadan tidak mendapatkan ampunan Allah Ta’ala.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila Ramadan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (Hadist Riwayat Bukhari nomor 1899 dan Muslim nomor 1079)

Rasulullah saw  mewanti-wanti jangan sampai  keburukan menimpa  bagi mereka yang keluar dari bulan Ramadan dalam keadaan ia tidak mendapat ampunan Allah SWT.

Rasulullah bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ دَخَلَ عَلَيْهِ شَهْرُ رَمَضَانَ ثُمَّ خَرَجَ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Semoga terhina orang yang masuk bulan Ramadan, lalu ia keluar dalam keadaan tidak mendapatkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”  (Hadist Riwayat Al-Bazzar, Ahmad, Ibnu Khuzaimah)

Karena untuk mendapatkan ampunan di bulan itu sangatlah mudah. Puasa yang kita lakukan saat itu sudah cukup menggugurkan dosa-dosa, qiyamurramadan atau salat tarawih itu pun juga menggugurkan dosa-dosa. Maka amalan pada waktu itu dilipatgandakan pahalanya oleh Allah.

Maka tidak mungkin kita bisa melaksanakan puasa Ramadan secara baik apabila kita tidak memiliki kebiasaan tersebut. Kebiasaan untuk berbuat baik itu harus kita mulai dari sekarang. Karena untuk memulai sesuatu yang kita tidak biasa melakukannya amatlah sulit.

See also  Self-Fulfilling Prophecy dan Prasangka kepada Tuhan

Oleh karena itulah Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Demikian pula Salafush Shalih, bahkan mereka di bulan Sya’ban memperbanyak membaca Al-Qur’an.

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan bahwa bulan Sya’ban itu bagaikan muqaddimah untuk bulan Ramadan. Maka disyariatkan di bulan Sya’ban seperti yang disyariatkan di bulan Ramadan.

Maka siapa yang tidak memiliki kebiasaan, akan sulit untuk bisa menggunakan Ramadan sebaik-baiknya.

Kita beribadah kepada Allah memerlukan kebeningan hati dan kebersihan jiwa kita. Apabila hati kita masih dikotori syahwat, masih dikotori hawa nafsu, ketika kita puasa pun seringkali puasa kita diselingi dengan hal-hal yang bisa menghilangkan pahala puasa kita. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali menahan lapar dan dahaga semata.” (Hadist Riwayat Ahmad)

Subhanallah.. Percuma, sia-sia puasa kita hanya karena kita kemudian tidak membersihkan hati kita, tidak berusaha untuk meninggalkan hal-hal yang bisa menghilangkan pahala puasa kita. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan berkata dusta dan terus-menerus dia melakukannya, Allah tidak membutuhkan puasanya.” (Hadist Riwayat Bukhari)

Oleh karena itulah, di hari ini, di bulan ini, mari kita mulai membiasakan kebaikan itu. Membiasakan dengan puasa sunnah, membiasakan dengan membaca Al-Qur’anul Karim dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk kita.

See also  Pendidikan Karakter Siswa: Guru Wali & Ekstrakurikuler

Karena diantara kita terkadang ada yang waktunya habis dengan main game dan yang lainnya,  ada yang habis dengan berbagai macam media sosial.

Karena itu, Allah SWT hadirkan bulan sya’ban dan kita dipertemukan dengan bulan sya’ban ini, sebaiknya kita kurangi sedikit demi sedikit kebiasaan yang tidak memberikan dampak positif bagi kehidupan kita.

Sekarang  kita mesti  lebih banyak memanfaatkan  waktu kita untuk hal-hal positif, kita dawamkan membaca  kalam-kalam Allah.

Karena yang Allah inginkan dari puasa Ramadan:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah ayat 183).

Kita tidak ingin ketika setelah selesai Ramadan ternyata kita tidak meraih predikat takwa.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ketika menghadapi musim-musim ketaatan, ia akan gembira. Karena sesungguhnya bulan Ramadan adalah musim ketaatan. Pada bulan ramadan  Allah perintahkan kita untuk berpuasa, kita dianjurkan untuk qiyamul lail (salat tarawih),  kita diperintahkan untuk banyak bersedekah, kita diperintahkan untuk meninggalkan perkara yang sia-sia.

Rasulullah saw  bersabda:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Bukanlah hakikat puasa itu menahan dari makan dan minum saja. Akan tetapi hakikat puasa meninggalkan perkara yang sia-sia dan ucapan yang tidak baik.” (Hadist Riwayat Ibnu Khuzaimah).

Dengan datangnya bulan ramadan, orang beriman yang menginginkan akhirat dan surga, hatinya gembira. Karena selain kebahagian dan ridho serta surga yang Allah janjikan, bagi orang yang beriman dan bergembira datangnya ramadan, Allah mengharamkan neraka.

Ada sebuah ungkapan:

من فرح بدخول شهر رمضان حرم الله جسده على النيران

“Barangsiapa bergembira dengan datangnya bulan ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya dilalap api neraka”

Memang dalam  al-maktabah al-syamilah saya tidak menemukan hadits ini dalam kitab-kitab hadits manapun.

See also  Hati-hati, Utang BUMN Bisa Picu Krisis Lebih Besar

Dari segi matan juga bias di lihat bahwa hadits ini termasuk hadits maudhu’ karena adanya imbalan pahala yang luar biasa (yaitu diharamkan dari api neraka) untuk amalan yang sangat ringan (hanya senang dengan datangnya Ramadan).

Dalam istilah ilmu hadits dikenal istilah

يعرف له أصل

( yu’rafu lahu ashlun)

atau

لا أصل له

(la ashla lahu/tidak diketahui sumber asalnya) dan hadits ini termasuk ke dalam kategori ini.

Tetapi ungkapan :

من فرح بدخول رمضان حرم الله جسده على النيران

Itu sebagai support/ memberikan semangat kepada ummat betapa penting dan mulianya bulan ramadan sehingga dengan senangnya saja akan tibanya bulan ramadan, bulan ampunan, bulan Rahmah, bulan berkah, bulan fitrah/suci, bulan Al Qur’an, sangat wajar Allah mengharamkan neraka kepada mereka. Apalagi jika Amaliah ramadhan mulai dari niatnya shaumnya, makan sahurnya, ifthar/ buka shaumnya, qiyamullail atau tarawihnya, tadarusnya banyak sedekahnya, zakat fitrahnya dan lain-lain amal shaleh yang dilakukan pada bulan ramadhan, sudah pasti ampunan Allah diberikan, neraka diharamkan, surga untuk tempat kembali sudah disiapkan.

Bagaimana seorang mukmin tidak bahagia dengan akan tibanya bulan Ramdan.

Bahkan para  Salafush Shalih ketika datang Ramadhan, mereka punya kebiasaan  menyambut dengan gembira, mereka saling memberikan selamat kepada satu sama lainnya.

اهلا وسهلا ومرحبا يا رمضان

Sementara kita, karena hati kita dipenuhi syahwat, dipenuhi dengan kehidupan dunia dan cinta dunia, dengan datangnya bulan Ramadan،  masih ada  di antara kita yang dahinya mengkerut, hatinya merasa berat. Karena ia tidak biasa dengan ketaatan kepada Allah SWT.**

Show More

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button