Berita

Menag Puji Peran Media dan Relawan dalam Menguatkan Solidaritas Bangsa

SALAMMADANI.COM – Di tengah suasana duka yang masih menyelimuti Bandung Barat, denyut kemanusiaan tak pernah benar-benar berhenti. Para relawan terus bergerak tanpa kenal lelah, aparat bekerja di balik layar, media setia menyiarkan informasi, sementara doa mengalir dari berbagai penjuru Tanah Air.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyaksikan langsung pertemuan empati bangsa Indonesia dalam satu tujuan: kepedulian terhadap sesama. Menurut Menag, penanganan bencana tidak mungkin ditopang oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara pemerintah, relawan, dan media menjadi fondasi utama dalam membangkitkan dan menjaga solidaritas nasional.

“Tanpa peran aktif media, sulit membayangkan partisipasi publik bisa tumbuh sekuat ini. Pemberitaan yang berkelanjutan membuat masyarakat tersentuh dan tergerak untuk ikut membantu,” ujar Menag saat meninjau lokasi bencana, Minggu (1/2/2026).

See also  PKM Hibah Kemdiktisaintek “Dapur Sehat” Perkuat UMKM di Kebon Waru

Bagi Menag, media bukan sekadar penyalur informasi, melainkan jembatan rasa. Melalui laporan yang faktual dan konsisten, penderitaan di satu daerah dapat dirasakan oleh masyarakat di daerah lain.

“Saat satu warga tertimpa musibah, saudara-saudaranya di tempat lain ikut merasakannya. Di situlah peran media menumbuhkan empati yang kemudian berubah menjadi aksi nyata,” tambahnya.

Namun demikian, Menag menegaskan bahwa kerja kemanusiaan dalam situasi bencana tidak berhenti pada bantuan logistik atau penyelamatan korban yang masih hidup. Ada aspek lain yang kerap luput dari sorotan, yakni penghormatan terakhir bagi mereka yang wafat. Kementerian Agama hadir untuk memastikan para korban diperlakukan secara bermartabat, mulai dari pemulasaraan hingga proses pemakaman sesuai tuntunan agama.

See also  Kemenag Perkuat Kompetensi Guru

“Bantuan kemanusiaan juga menjadi hak saudara-saudara kita yang telah wafat. Mereka perlu dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan didoakan agar tenang di sisi-Nya,” tutur Menag. Menurutnya, nilai kemanusiaan justru diuji pada saat-saat paling sunyi, ketika duka tak lagi mampu diungkapkan dengan kata-kata.

Untuk mendukung layanan tersebut, Kementerian Agama telah menyiapkan panduan praktis tata cara pemulasaraan jenazah (tajhizul mayit) yang bersifat universal bagi umat Islam. Panduan ini dicetak dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa agar dapat dimanfaatkan secara luas, termasuk oleh masyarakat Indonesia di luar negeri. Dalam kondisi darurat, kejelasan panduan dinilai mampu menjadi penopang ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan.

See also  Siswa MAN IC OKI Raih Medali Olimpiade Matematika AIMO Internasional

Di balik seluruh rangkaian proses tersebut, Menag juga menyampaikan apresiasi kepada para relawan dan petugas di garis depan, termasuk tim DVI yang memikul beban fisik dan emosional berat. “Mereka bekerja dengan kekuatan luar biasa—tegar saat bertugas, namun tetap manusiawi ketika kesedihan datang. Ini adalah kerja kemanusiaan yang tidak ringan,” ungkapnya.

Menag berharap sinergi yang terbangun selama masa tanggap darurat dapat terus dijaga hingga fase pemulihan. Bagi Kementerian Agama, bencana bukan semata soal kerusakan fisik, melainkan juga upaya menjaga harapan, memulihkan batin, serta memastikan bahwa di tengah duka, bangsa ini tetap saling menopang melalui aksi, empati, dan doa.(kemenag/ask-png)

 

Show More

Related Articles

Back to top button