Berita

Belajar Menghargai Detik yang Bernilai Abadi

Drs. Abdurahman Rasna, MA ( Anggota Komisi Dakwah MUI Pusat dan Pengasuh Pesantren di Banten )

MENJELANG  Ramadan yang tinggal dalam hitungan jam, setiap detik menjadi lebih bermakna.

Bulan suci hadir sebagai pengingat tentang kefanaan dunia dan pentingnya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Ramadan mengajarkan kita bahwa setiap napas, setiap hembusan, dan setiap momen hidup adalah amanah yang harus dipenuhi dengan ketaatan kepada Allah SWT.

Kesadaran ini menumbuhkan rasa urgensi dalam beribadah, menajamkan fokus kita dalam dzikir, salat, dan amal saleh, serta memperingatkan bahwa waktu yang hilang tidak bisa dikembalikan.

Menghargai Waktu Sebelum dan Selama Ramadan

Waktu sebagai nikmat yang paling berharga. Waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang sering terlupakan manusia. Rasulullah saw  bersabda:

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan mudamu sebelum tuamu.”  (HR. Hakim).

Ramadan menekankan bahwa detik yang diisi dengan amal saleh memiliki nilai abadi. Para salaf selalu menekankan pentingnya menata hari, menyusun waktu, dan memprioritaskan ibadah agar setiap momen menjadi ladang pahala.

See also  BAZNAS RI Perkuat Peran UPZ untuk Tingkatkan Penghimpunan Zakat Ramadan

Dengan menyadari nilai waktu, seorang hamba mampu mengurangi kesia-siaan, meningkatkan produktivitas spiritual, dan mengisi hari-hari Ramahan dengan ibadah yang benar-benar mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata‘ala.

Detik yang dihitung, pahala yang berlipat

Setiap detik Ramadan yang diisi dengan puasa, salat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan sedekah menjadi investasi pahala yang tak ternilai. Para sahabat, seperti Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu, selalu memperhatikan waktu agar ibadahnya konsisten dan maksimal.

Kesadaran detik yang bernilai abadi mendorong kita untuk tidak menunda amal saleh. Bahkan momen kecil seperti menolong sesama atau senyum tulus bisa menjadi pahala besar jika diniatkan karena Allah SWT.

Manajemen waktu ala salaf

Para salaf memanfaatkan Ramadan dengan disiplin tinggi. Mereka membagi waktu antara ibadah pribadi, membaca Al-Qur’an, salat sunnah, dan memberi manfaat bagi orang lain. Mereka menyadari bahwa kehilangan satu waktu berarti kehilangan pahala yang tidak bisa dikompensasi.

See also  SPeSIA 2025 Gelombang 2: Unisba Torehkan Publikasi 1.324 Artikel Ilmiah Nasional

Belajar dari mereka, kita diajak membuat jadwal ibadah dan dzikir yang realistis, menata prioritas, dan menghindari kegiatan sia-sia yang menggerus waktu berharga. Ramadan menjadi madrasah untuk menanam kebiasaan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sepanjang hidup.

Merenungi kefanaan dan pentingnya konsistensi

Ramadan mengingatkan bahwa hidup ini sementara. Waktu yang berlalu tidak akan kembali, dan setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran ini mendorong kita untuk konsisten dalam amal ibadah, menahan diri dari godaan, dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata‘ala.

Refleksi ini menumbuhkan disiplin, ketekunan, dan kesungguhan hati sehingga setiap detik Ramadan tidak hanya berlalu tetapi meninggalkan bekas spiritual yang mendalam.

Waktu dan dampak sosial

Menghargai waktu tidak hanya berdampak pada diri sendiri tetapi juga pada orang lain. Hamba yang memanfaatkan waktu secara baik cenderung lebih produktif dalam memberi manfaat, menolong sesama, dan menyebarkan kebaikan.

See also  Menag Puji Peran Media dan Relawan dalam Menguatkan Solidaritas Bangsa

Ramadan adalah bulan di mana solidaritas sosial dan amal kebaikan meningkat. Dengan menghargai detik yang bernilai abadi, kita belajar menyeimbangkan ibadah personal dan kontribusi sosial sehingga waktu yang digunakan tidak hanya menguntungkan diri tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat.

Harapan dan Doa

Ya Allah, ajarkanlah kami untuk menghargai setiap detik yang Engkau berikan. Jadikanlah waktu kami di Ramadan penuh dengan amal saleh, dzikir, dan manfaat bagi sesama. Jangan biarkan kami menyia-nyiakan satu momen pun, dan anugerahkanlah kesadaran yang mendalam akan nilai waktu di sisi-Mu. Amin.

Ramadan adalah ladang amal dan pengingat akan kefanaan hidup. Setiap detik yang kita isi dengan kebaikan akan menjadi cahaya abadi di sisi Allah swt.

Indah jika kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sehingga Ramadan bukan hanya bulan yang berlalu tetapi menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih bertakwa dan produktif secara spiritual.(ask/png) **

Show More

Related Articles

Back to top button