Opini

Autofagi: Hikmah Tersembunyi Puasa

Drs. Abdurahman Rasna, MA ( Anggota Komisi Dakwah MUI Pusat dan Pengasuh Pesantren di Banten )

HAMPIR Setiap muslim Muttaqin mukmin yang sedang menjalankan ibadah puasa selalu merasakan lapar, terutama pada sekitar pukul 11.00 – pukul 15.00 WIB.

Pada saat lapar dalam keadaaan berpuasa ternyata sel-sel yang ada dalam tubuh kita yang berjumlah sekira 37 triliun sel itu ada yang mati tapi diganti dengan sendirinya  oleh sel yang hidup.

Dr. Yoshinori Ohsumi adalah seorang ahli biologi sel asal Jepang yang memenangkan Nobel Prize in Physiology or Medicine pada tahun 2016. Alasan dia mendapat penghargaan Nobel berkat kerja kerasnya melakukan riset sampai menemukan mekanisme autofagi.

Autofagi berasal dari bahasa Yunani, yaotu auto = diri sendiri dan phagy = memakan. Autofagi adalah mekanisme daur ulang sel, dengan cara sel membersihkan protein rusak, organel tua (mitokondria rusak), partikel toksik, dan debris seluler. Proses ini melibatkan pembentukan autophagosome, lalu digabungkan dengan lisosom untuk dihancurkan dan didaur ulang.

See also  Titah Memakan Makanan Halal dan Thayyib

Penelitian Yoshinori membuka pemahaman mendalam tentang bagaimana sel menghancurkan dan mendaur ulang komponennya sendiri, bertahan dalam kondisi stres, dan mengatur keseimbangan internal (homeostasis). Penelitian Ohsumi dilakukan menggunakan ragi (yeast) sebagai model biologis, namun implikasinya sangat besar bagi kedokteran manusia.

Berdasarkan penelitiannya, puasa dapat memiliki beberapa manfaat kesehatan, antara lain:

Mengaktifkan proses autofagi:

Puasa dapat mengaktifkan proses autofagi, yaitu proses alami di mana sel-sel tubuh yang berjumlah sekira 37 triliun sel membersihkan diri dengan menghancurkan dan mendaur ulang komponen yang rusak atau tidak berguna.

Memperlambat penuaan:

Autofagi dapat membantu menghilangkan sel-sel yang rusak atau tua sehingga memperlambat proses penuaan.

Meningkatkan sistem kekebalan tubuh:

See also  Hakikat Sakit

Autofagi dapat membantu menghilangkan bakteri dan virus yang berbahaya sehingga meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Mengurangi risiko penyakit:

Autofagi dapat membantu mencegah penyakit seperti kanker, Alzheimer dan Parkinson.

Memperbaiki kesehatan jantung:

Autofagi dapat membantu menurunkan tekanan darah dan kadar gula darah.

Dr. Ohsumi menemukan bahwa proses autofagi dapat diaktifkan dengan berpuasa selama 8-12 jam, dan metode puasa intermiten (intermittent fasting) dapat bahkan  sangat efektif dalam merangsang autofagi. Intermittent Fasting (IF) adalah pola makan dengan periode puasa dan makan yang terjadwal. Bukan diet jenis makanan, tetapi pengaturan waktu makan.

Beberapa pola populer:

  • 16:8 → 16 jam puasa, 8 jam makan
  • 5:2 → 5 hari makan normal, 2 hari restriksi kalori
  • Alternate-day fasting
  • OMAD (One Meal A Day)

Saat puasa, tubuh beralih dari menggunakan glukosa ke lemak/keton sebagai sumber energi. Di sinilah proses seluler penting mulai aktif — termasuk autofagi.

See also  Seek Knowledge Even as Far as China

Hal ini sudah disinyalir dalam hadits Nabi saw sebagaimana sabdanya :

صوموا تصحوا

“Berpuasalah karena kamu akan sehat”.

Orang-orang yang sadar bahwa puasa bulan ramadan ini adalah salah satu rukun Islam yang akan mengangkat menartabatkan shoimun shoimat, mereka secara refleks himmah terhadap ilmu tiba-tiba muncul.

Karena berpuasa bagi orang-orang yang didasari ilmu itu pasti  meningkatkan kualitas diri sehingga menjadi unggul dan terbaik.

Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 184 :

………….. وان تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون

“…….. dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Auatofagi inilah salah satu hikmah yang didapat umat Islam saat menjalankan ibadah puasa di budang Ramadan.***

Show More

Related Articles

Back to top button