Cuci Tangan Bersabun sebagai Upaya Awal Perlindungan dari Penyakit Menular
Oleh Tita Barriah Siddiq,dr.,M.H.Kes (Dosen Fakultas Kedokteran Unisba)
PESANTREN identik dengan nilai luhur dalam kehidupan beragama dan kesederhanaan. Orangtua memilih untuk menyekolahkan anaknya di pesantren untuk mendalami nilai keagamaan, membentuk karakter dan kemandirian anak serta,mendapatkan pendidikan kompherensif dalam lingkungan yang baik. Sehingga pesantren memegang peranan penting dalam pembiasaan perilaku sehari-hari, salah satunya mengenai perilaku kesehatan dan kebersihan di kalangan santri.
Cuci Tangan Pakai Sabun adalah langkah sederhana namun sangat efektif dalam mencegah penyebaran penyakit. Data dari Global Handwashing Partnership, perilaku ini dapat mencegah hingga 50 persen kasus diare dan mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan hingga 20 persen sehingga
perilaku ini menjadi salah satu indikator dalam pencapaian tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah Indonesia mencanangkan program GERMAS yaitu Gerakan Masyarakat Hidup Sehat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perilaku hidup sehat. Pembiasaan yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari adalah gerakan Cuci Tangan Pakai Sabun. Meski terdengar sederhana, namun perilaku ini mempunyai dampak besar dalam pencegahan penyakit menular. Penyakit yang
dapat dicegah diantaranya penyakit menular seperti diare, infeksi pernafasan saluran atas, penyakit kulit, infeksi cacing, hepatitis A dan penyakit tangan kaki dan mulut (PTKM).
Nilai Islam secara umum mengajarkan kita ketika terdapat kotoran pada tubuh atau pakaian kita hendaklah berusaha membersihkannya agar bersih dan bagus. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan” (HR. Muslim no.91). Terlebih jika tangan yang kotor bisa mengganggu orang lain. Dari Abu Musa radhiallahu’anhu, ia berkata: “Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, amalan Islam manakah yang paling utama?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari nomor 10, Muslim nomor 57). Sebagai seorang muslim kita harus memahami bahwa perintah untuk menjaga kebersihan diri adalah salah satu ajaran yang diajarkan oleh Islam.
Cuci Tangan Pakai Sabun di Pesantren
Cuci Tangan Pakai Sabun di Pesantren dapat dilakukan sebelum dan sesudah makan, sebelum, selama, dan sesudah menyiapkan makanan, setelah menggunakan toilet misalnya setelah buang air besar atau menggunakan toilet, setelah menyentuh sampah atau kotoran hewan, setelah bersin atau batuk, sebelum menyentuh mata, hidung, atau mulut.
Langkah Cuci Tangan Pakai Sabun yang benar, pertama basahi tangan dengan air bersih yang mengalir, lalu gunakan sabun. Kedua, menggosok telapak tangan, punggung tangan, dan sela-sela jari dengan gerakan memutar. Ketiga, menggosok jari-jari tangan dengan posisi saling mengunci. Keempat menggosok ibu jari dengan gerakan memutar di telapak tangan. Kelima menggosok ujung jari tangan dengan gerakan memutar pada telapak tangan yang berlawanan. Keenam bilas tangan hingga bersih dengan air mengalir, kemudian keringkan tangan dengan handuk bersih atau tisu.
Salah satu penelitian yang menggunakan pendekatan Theory of Planned Behavior (TPB) mengidentifikasi tiga faktor utama yang memengaruhi perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun, yaitu sikap santri terhadap perilaku,norma subjektif dari keluarga, guru dan teman sebaya mendorong
mereka untuk melakukan perilaku cuci tangan pakai sabun. Terakhir adalah kendali perilaku yang dirasakan. Hal ini melibatkan kemudahan akses dalam fasilitas cuci tangan pakai sabun, seperti air mengalir, sabun, dan pengering tangan.
Cuci Tangan Pakai Sabun tampak sederhana, namun dampaknya sangat besar dalam menciptakan generasi yang sehat dan produktif. Kolaborasi antara pesantren, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan dalam pembiasaan perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun, dukungan dari semua pihak, menyediakan fasilitas yang memadai ,dan edukasi yang berkelanjutan, merupakan kunci keberhasilan perilaku ini. Pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor dalam membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat di kalangan remaja. Jika setiap santri mulai membiasakan diri Cuci Tangan Pakai Sabun maka langkah kecil ini akan membawa perubahan besar bagi kesehatan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.***



