Berita

Gen Z Jadi Fokus Peta Jalan Keberagamaan Jakarta, Sekjen Kemenag Dorong Dakwah Adaptif dan Digital

SALAMMADANI.COM — Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menegaskan bahwa Generasi Z (Gen Z) menjadi prioritas utama dalam penyusunan peta jalan pembangunan keberagamaan di DKI Jakarta. Menurutnya, strategi dakwah dan layanan keagamaan di ibu kota harus disesuaikan dengan pola pikir serta kebiasaan generasi muda yang kini sangat lekat dengan dunia digital.

Pernyataan tersebut disampaikan Kamaruddin saat menghadiri forum diskusi pembangunan keagamaan DKI Jakarta yang melibatkan berbagai unsur lintas institusi, mulai dari Forkopimda, Kejaksaan Tinggi, Kodam Jaya, Polda, Pengadilan Tinggi, FKUB, BP4, Baznas, BWI, hingga MUI.

Dalam paparannya, Kamaruddin menilai Gen Z memiliki peran strategis dalam menentukan arah kehidupan beragama di masa depan. Tanpa pendekatan yang relevan, ia khawatir anak muda akan merasa agama semakin jauh dari realitas keseharian mereka.

See also  FTK Unisba Perkuat Kerja Sama Global Lewat Program Akademik dan PLP Internasional di Malaysia–Thailand

“Anak-anak Gen Z DKI harus menjadi variabel utama dalam perencanaan kita. Jika tidak, mereka bisa saja menganggap agama tidak lagi penting,” ujarnya di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Ia menekankan bahwa pendekatan dakwah perlu menjangkau seluruh segmen, termasuk kalangan muda kelas menengah dan menengah atas yang kerap luput dari program konvensional.

Kamaruddin menjelaskan, ekosistem dakwah harus dilihat secara menyeluruh—mulai dari dai, sasaran, materi, hingga media yang digunakan. Materi keagamaan, menurutnya, tak cukup berhenti pada aspek spiritual semata, tetapi juga perlu menyentuh persoalan sosial dan ekonomi yang dekat dengan kehidupan masyarakat urban.

Ia mendorong penggunaan instrumen dakwah yang lebih modern serta pendekatan yang logis dan ilmiah agar pesan agama mudah dipahami generasi muda.

See also  Open House FK Unisba 2025: Sinergi Ilmu Kedokteran dan Nilai Islami dalam PMB Jalur USM Gelombang 2

“Instrumen dakwah harus canggih dan modern. Materinya pun perlu rasional serta dapat dijelaskan secara ilmiah,” jelasnya.

Jakarta Butuh Pendekatan Khusus

Sebagai kota metropolitan sekaligus pusat globalisasi, Jakarta memiliki karakteristik keberagamaan yang berbeda dibanding daerah lain. Tingginya penetrasi teknologi, modernitas, serta keberagaman sosial menjadikan pengelolaan keagamaan perlu pendekatan yang lebih kontekstual.

“Jakarta adalah kota paling plural dan paling beragam. Karena itu tata kelola keberagamaannya tentu tidak bisa disamakan dengan daerah lain,” kata Kamaruddin.

Ia juga menilai masyarakat ibu kota cenderung lebih kritis dan rasional. Oleh sebab itu, penyampaian pesan agama harus berbasis argumentasi yang masuk akal, bukan sekadar otoritas.

See also  Rektor Institut Tazkia : Menuju Jurnalisme Online Berkualitas dan Berintegritas

“Masyarakat Jakarta lebih modern dan sophisticated, sehingga pendekatan agama juga harus rasional dan relevan,” tambahnya.

Kamaruddin mengajak seluruh peserta forum memanfaatkan pertemuan lintas sektor ini untuk merumuskan langkah konkret pembangunan keagamaan. Menurutnya, forum semacam ini jarang terjadi dan harus menghasilkan rekomendasi nyata.

Hasil diskusi akan dirumuskan dalam rencana strategis lima tahun Kanwil Kemenag DKI Jakarta sebagai turunan dari rencana induk nasional Kementerian Agama.

Di akhir arahannya, ia mengingatkan tiga prinsip utama program Kemenag, yakni rukun, maslahat, dan cerdas, sebagai pijakan setiap kebijakan. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sipil.

“Mudah-mudahan forum ini produktif, membawa keberkahan, dan memberi manfaat bagi pembangunan keagamaan di Jakarta,” pungkasnya.(kemenag/ask/png)

Show More

Related Articles

Back to top button