Opini

Iran dan Perlawanan terhadap Hegemoni AS–Israel

Dr. Muhammad E Fuady (Pengamat Komunikask Politik, Dosen Fikom Unisba)

NARASI  tentang “ancaman nuklir Iran” kembali diputar. Seperti lagu lama yang dirilis ulang, Presiden Donald Trump kembali mengangkat isu itu sebagai pembenaran serangan militer terhadap Iran. Retorikanya tidak berubah, yakni demi keamanan dunia, demi stabilitas kawasan, demi kebebasan rakyat. Kamuflase moral digunakan untuk melancarkan tindakan yang bersifat ekspansionis.

Dunia pernah mendengar tuduhan Amerika Serikat terhadap Irak tentang Weapon of Mass Destruction, alias senjata pemusnah massal. Dunia pun menyaksikan bagaimana dalih itu runtuh bersama hancurnya Baghdad. Kini giliran Iran. Amerika kembali mengonstruksi panggung retorika moral yang dibalut narasi heroik, yakni AS hadir sebagai penyelamat dunia dari ancaman nuklir. Padahal Badan Atom Internasional nyatakan tak ada bukti Iran membuat itu.

Trump menjual narasi seolah AS adalah penyelamat rakyat Iran, sosok heroik yang akan membebaskan mereka dari rezim. Padahal dalam beberapa dekade terakhir, Amerika Serikat dan Israel justru kerap menjadi bagian dari konflik yang memperpanjang penderitaan di kawasan Teluk. Invasi, intervensi, sanksi ekonomi, embargo, perang proksi, hingga dukungan terhadap rezim Shah Pahlevi pada masa lalu menjadi bagian dari sejarah panjang keterlibatan kekuatan besar di kawasan tersebut.

Duet AS–Israel menempatkan diri dan tindakan mereka sebagai “We are fighting the bad guys, we are the good guys”. Iran dilabeli sebagai “ancaman eksistensial” dan “negara sponsor terorisme” yang membahayakan dunia. Narasi ini berulang dari satu periode ke periode lain, seolah menjadi pola baku dalam komunikasi politik global. Dalam praktiknya, pelanggaran terhadap kedaulatan negara lain justru kerap terjadi, sementara jutaan warga sipil di berbagai konflik menjadi korban dari eskalasi geopolitik yang tidak mereka pilih.

Sejarah selalu mencatat ironi. Saat klaim “pembebasan” terus digaungkan, sekitar 165 siswa sekolah dasar dan staf sekolah di Iran menjadi korban serangan rudal AS-Israel. Meski Trump membantah itu dilakukan AS, citra satelit menguatkan analisis bahwa itu bagian dari serangan presisi rudal AS. Berselang dua hari, di Sidang PBB, Melania Trump berpidato tentang masa depan dan perlindungan anak-anak.

See also  Memaknai Istidraj dan Komunikasi Kontemplatif : Jalan Kembali dalam Keheningan

Serangan AS–Israel menargetkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia gugur di kediamannya. Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan tersebut sebagai “pelanggaran terhadap norma moralitas manusia.” Korea Utara mengecamnya sebagai “perilaku tak tahu malu yang merusak tatanan PBB.” China secara tegas menyatakan bahwa pembunuhan itu merupakan “pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan keamanan Iran.” Mereka juga menegaskan bahwa “pembunuhan terang-terangan terhadap seorang pemimpin negara berdaulat dan hasutan untuk perubahan rezim” adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.

Sebagai negara adidaya, AS merasa boleh menentukan siapa yang layak hidup, siapa yang layak memimpin, dan siapa yang harus diganti. Sejatinya, ketika pembunuhan pemimpin sebuah negara berdaulat dinarasikan sebagai tindakan melawan rezim diktator, maka dunia sedang melangkah menuju kekacauan global.

Bagi netizen di media sosial, Trump dan Netanyahu ditampilkan layaknya “Dumb and Dumber”, karakter populer dalam film Hollywood. Dalam perspektif simbolik di media sosial, duet ini kerap dianalogikan sebagai Firaun dan Haman, satu memegang kuasa, satu lagi sang pembisik. Kuasa dan narasi menyatu, memproduksi kebohongan yang diklaim sebagai kebenaran. Yang satu membawa arogansi kekuatan adidaya, yang lain mempraktikkan politik ekspansionisme yang kerap menuai kritik internasional. Narasi ancaman dan ketakutan diproduksi secara terus-menerus, sementara rakyat di kawasan Palestina, Lebanon, Suriah, Irak, dan kini Iran menanggung dampak dari aksi militer AS–Israel.

See also  Menelusuri Azab dan Musibah

Hasil riset The Washington Post (2021) menunjukkan bahwa pada periode pertama kepresidenannya, Trump memproduksi 30.573 kebohongan, klaim palsu, atau menyesatkan. Netanyahu juga kerap melakukan kebohongan politik untuk menutupi fakta dan membenarkan aksi Israel. Produksi narasi semacam ini memperlihatkan bagaimana propaganda dan manipulasi informasi menjadi instrumen penting dalam politik global, terutama ketika kebijakan militer dan ekspansi geopolitik membutuhkan legitimasi moral di hadapan publik dunia.

Dunia sedang menyaksikan rusaknya tatanan internasional yang selama ini diklaim berbasis aturan. Perang modern tidak selalu dimulai dengan peluru, tetapi dengan cerita atau narasi yang menciptakan ketakutan kolektif.

Cerita indah globalisasi dan masa depan dunia tentang harmonisasi dan kesetaraan ternyata sekadar omong kosong. Hal itu telah dinyatakan Yusuf al-Qaradawi (2001). Dalam globalisasi, negara kuat mendikte aturan negara lain. Semua dipaksa tunduk atas nama stabilitas dan demokrasi. Hukum internasional, dalam praktiknya, kerap diterapkan secara ugal-ugalan melalui dominasi negara adidaya dan sekutunya.

Iran bukan negara yang lahir kemarin. Empat puluh enam tahun hidup di bawah embargo dan tekanan ekonomi menjadikan negeri itu terbiasa berdiri di atas kaki sendiri. Mereka teruji oleh sanksi, terlatih oleh isolasi, dan terbentuk melalui tekanan.

Sebagai target serangan AS–Israel, Iran tidak tinggal diam. Mereka menunjukkan keberanian melawan kepongahan kekuatan militer melalui kemampuan pertahanan yang dibangun selama puluhan tahun. Aneka rudal Iran bukan sekadar instrumen militer, tetapi simbol bahwa sebuah bangsa yang terus direpresi tetap memiliki kapasitas untuk melawan dominasi. Bagi banyak pengamat geopolitik, kemampuan ini menjadi pesan bahwa kekuatan adidaya tidak lagi dapat bertindak sepihak tanpa risiko balasan.

Perlawanan Iran seolah menjadi tanda bergesernya keseimbangan global. Profesor Jiang, seorang pengamat strategi internasional dari Tiongkok, menyebut bahwa jika konflik terbuka terus dipaksakan, Amerika Serikat justru berpotensi mengalami kekalahan strategis dalam jangka panjang. Menurutnya, perang modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi oleh legitimasi moral, ketahanan nasional, dan dukungan geopolitik global yang semakin terfragmentasi.

See also  Empat Ragam Sedekah dan Keutamaannya

Di titik inilah tantangan moral dan keagamaan dunia berubah. Persoalannya bukan lagi perdebatan akidah yang tak berujung, tetapi bagaimana agama dan nurani kemanusiaan berdiri di pihak yang tertindas dalam sistem global yang tidak setara. Dunia menolak pembunuhan dan agresi yang melanggar prinsip kedaulatan.

Dibutuhkan solidaritas lintas bangsa dan lintas agama untuk menolak ketidakadilan struktural ini. Dulu Irak, lalu Venezuela, kini Iran menjadi contoh nyata. Esok lusa, negara lain bisa mengalami perlakuan serupa ketika diposisikan sebagai musuh dari kepentingan adidaya.

Dunia tidak lagi percaya pada irama yang dibangun AS. Salah satunya terlihat ketika Spanyol secara tegas menolak permintaan AS untuk menggunakan pangkalan militer Rota dan Moron dalam menyerang Iran. Penolakan tersebut bahkan dibalas dengan ancaman embargo dari Trump terhadap Spanyol.

Sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang menyerang, tetapi siapa yang berdiri di sisi keadilan ketika darah mengalir atas nama stabilitas. Dalam dunia yang terus bergerak menuju polarisasi baru, moralitas dan keberanian yang ditunjukkan Iran melawan hegemoni AS–Israel jauh lebih langka dan berharga daripada rudal yang mereka miliki. Karena pada akhirnya, dunia tidak runtuh oleh kekuatan rudal, tetapi oleh diamnya nurani ketika agresi dinormalisasi.

Solidaritas global menuntut setiap umat beragama, bangsa, dan negara untuk bersuara menolak agresi militer yang dibungkus dengan narasi moral.***

Show More

Related Articles

Back to top button