Opini

Ketika Waktu Tak Lagi Luas Namun Hati Kian Dalam

Oleh Drs. Abdurahman Rasna, MA ( Anggota Komisi Dakwah MUI Pusat dan Pengasuh Pesantren di Banten )

ADA satu fase dalam hidup ketika seseorang mulai berjalan lebih pelan. Bukan semata karena tenaga berkurang tetapi karena hati mulai memilih. Dulu, kita berlari mengejar banyak hal sekaligus. Kini, kita berhenti sejenak dan bertanya dengan lebih jujur: mana yang benar-benar perlu, dan mana yang hanya menghabiskan umur.

Di saat malam turun dengan sunyinya, selimut bukan sekadar penghangat tubuh, melainkan ruang perenungan. Di sanalah usia berbicara tanpa suara. Ia tidak menuntut, tidak memarahi, hanya mengingatkan dengan lembut: bahwa waktu yang tersisa mungkin tak lagi luas tetapi masih bisa menjadi sangat bermakna.

Tafakkur ini tidak lahir dari rasa takut, melainkan dari kesadaran. Kesadaran bahwa bertambahnya usia bukan musibah, melainkan salah satu bentuk rahmat Allah Subhanahu Wata‘ala, jika disikapi dengan hati yang jernih.

Berkah Usia dan Kedalaman Kesadaran

Islam tidak pernah memuliakan usia karena lamanya tetapi karena apa yang tumbuh bersamanya. Ada orang yang diberi umur panjang, namun hatinya tetap dangkal. Ada pula yang umurnya tak terlalu panjang tetapi jejak amalnya melampaui waktu.

See also  Titah Memakan Makanan Halal dan Thayyib

Allah Subhanahu Wata‘ala berfirman:

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَٰلِحًا غَيْرَ ٱلَّذِى كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَآءَكُمُ ٱلنَّذِيرُ فَذُوقُوا۟ فَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٍ

“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.” (Dikatakan kepada mereka), “Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.” (Quran Surat Fāthir ayat 37)

Ayat ini bukan ancaman, melainkan undangan penuh kasih. Seakan Allah bertanya secara lembut: sudahkah usia itu membuatmu lebih sadar? Sebab tanda berkah usia bukanlah masih kuatnya tubuh tetapi makin halusnya rasa takut kepada Allah dan makin tulusnya harap kepada-Nya.

See also  Sejarah Shaum

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ ٱلنَّاسِ مَن طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. at-Tirmidzi)

Hadits ini menegaskan bahwa usia adalah ladang. Ia bisa subur, bisa pula gersang. Yang menentukan bukan cuaca kehidupan tetapi cara kita menanam dan merawatnya.

Di usia yang kian bertambah, banyak hal berubah. Ambisi mulai menyusut, keinginan tak lagi sebising dulu, dan dunia perlahan kehilangan daya pikatnya. Bukan karena dunia itu hina tetapi karena hati mulai tahu bahwa semua yang datang pasti akan pergi.

Para ulama Ahlussunnah menjelaskan, pada fase ini Allah sering mengganti kenikmatan dunia dengan kejernihan batin. Ibn al-Qayyim rahimahullah menyinggung bahwa Allah mendekatkan hamba-Nya dengan cara mengurangi keterikatannya pada dunia, agar langkahnya lebih ringan saat pulang.

Maka berkah usia sesungguhnya terletak pada kedalaman. Doa yang lebih jujur. Tangis yang lebih sunyi. Amal yang mungkin kecil tetapi dilakukan dengan penuh kesadaran. Inilah usia yang tidak banyak bicara, namun banyak berserah.

See also  Misteri Hari Akhir

Harapan dan Doa

Ya Allah,

jika waktu kami tak lagi luas,

jadikan hati kami semakin lapang.

Jika tenaga kami berkurang,

tambahkan kejernihan dalam memandang hidup.

Ajari kami mensyukuri usia

bukan dengan keluhan,

tetapi dengan ketundukan.

Terimalah amal yang sedikit,

ampuni lalai yang bertumpuk,

dan izinkan kami menutup usia

dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.

Berkah usia bukan tentang berapa lama kita hidup tetapi tentang seberapa dalam kita memahami hidup itu sendiri. Ketika waktu tak lagi luas, Allah sering menghadiahkan sesuatu yang jauh lebih berharga: hati yang kian dalam.

Bagi yang telah memasuki usia senja, ini adalah undangan untuk menenangkan langkah.

Bagi yang masih muda, ini adalah isyarat agar tidak menunda kesadaran.

Sebab hidup yang paling indah bukanlah hidup yang paling panjang, melainkan hidup yang paling siap ketika waktunya dipanggil pulang

Semoga menjadi selimut yang menenangkan.

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Show More

Related Articles

Back to top button