Kisah CEO yang Menyamar : Don’t Judge A Book by Its Cover
Oleh Dr. Muhammad E Fuady, M.Ikom (Dosen Fikom Unisba, pengamat komunikasi politik)
ADA satu kenyataan yang sering luput dari kesadaran kita sehari-hari. Tuhan memberi manusia mata untuk melihat tetapi justru dari mata itu manusia kerap terperangkap dalam jebakan penilaian. Kita melihat orang lain, lalu seolah otomatis memberi label, menakar kemampuan, menebak isi hidup, bahkan menentukan harga diri seseorang hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Tanpa disadari, pandangan mata sering menipu. Realitas yang kita persepsikan tidak selalu sama dengan kenyataan. Ada masa ketika seseorang tampak baik, ternyata tidak. Di situasi lain, seseorang terlihat buruk, ternyata justru sebaliknya. Penampilan luar sering membuat manusia merasa paling tahu, padahal sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar memahami apa yang sedang terjadi di balik sosok yang berdiri di hadapan kita.
Di sinilah letak persoalan sosial yang sederhana tetapi dampaknya besar. Banyak orang masih menilai orang lain dari pakaian, gaya hidup, bahasa tubuh, atau simbol-simbol kelas sosial. Seseorang yang berpakaian biasa, lusuh, atau terlihat “ndeso” sering dianggap tidak mampu, tidak penting, bahkan tidak layak diperhatikan. Padahal bisa jadi dialah orang yang paling mampu.
Alkisah, di sebuah dealer kendaraan, seorang bapak berpakaian sederhana datang berjalan kaki sambil membawa dua kantong kresek hitam besar. Satpam yang melihatnya langsung bereaksi spontan. Bapak itu diusir karena dianggap tidak punya urusan dan hanya mengganggu. Tapi sang bapak tidak marah. Ia hanya tersenyum dan pergi begitu saja.
Beberapa saat kemudian, seseorang yang melihat dan mengenali bapak itu memberi tahu manajer bahwa orang yang diusir barusan ternyata salah satu orang terkaya di sebuah kabupaten di Jawa Barat. Manajer pun panik dan buru-buru mengejar untuk meminta maaf. Saat itulah baru diketahui, isi kantong kresek itu adalah uang tunai untuk membeli dua truk. Hampir saja dealer tersebut kehilangan konsumen penting.
Peristiwa lainnya terjadi di pusat perbelanjaan Bandung. Petugas sales mobil bersikap dingin ketika melihat seorang pengunjung yang berpakaian kaus, bercelana pendek, dan hanya memakai sandal. Pengunjung itu tampak biasa saja, bahkan dianggap seperti “orang tidak berduit”. Orang itu diabaikan. Namun sales lain menyambutnya dengan ramah. Ia tidak membedakan calon pembeli berdasarkan penampilan.
Setelah ngobrol panjang lebar, pengunjung itu ternyata seorang dokter yang lama tinggal di Singapura dan baru kembali ke Indonesia. Rumahnya di kompleks elit, di Kota Bandung. Cerita pun berakhir manis. Tanpa banyak drama, pengunjung itu langsung memesan satu unit mobil mewah. Sales yang tadi mengabaikan konsumen hanya bisa bengong melihat kawannya berhasil menjual unit kendaraan.
Ada kisah yang lebih dramatis. Seorang ibu berpakaian agak lusuh masuk membawa kantong kresek besar hitam. Ia menanyakan berlian yang harganya ratusan juta. Secara kasat mata, banyak orang mungkin akan mengira itu hanya “tanya-tanya” tanpa membeli. Namun seorang pramuniaga memilih tetap melayani dengan ramah.
Yang terjadi kemudian seperti adegan sinetron. Ibu itu benar-benar membeli berlian mahal. Ia bayar cash. Dan isi kantong kresek hitamnya adalah uang ratusan juta. Pramuniaga itu bahkan membandingkan pengalamannya, orang yang tampil perlente kadang hanya membeli berlian kecil harga sekian jutaan, sementara yang tampil sederhana justru berani membeli yang nilainya ratusan juta.
Tiga kisah di atas terjadi belasan tahun silam. Belum seperti sekarang di era pembayaran digital, transaksi elektronik melalui QRIS atau e-wallet. Kisah itu menyimpan pesan sosial yang sangat kuat. Kita terlalu sering bergantung pada apa yang terlihat. Padahal pancaindra manusia punya keterbatasan. Sering kali kita tidak tahu apa-apa tentang kenyataan hidup seseorang. Kita hanya menebak-nebak, lalu menjatuhkan penilaian.
Di tengah masyarakat yang semakin memuja citra, tampilan, dan kemasan, pesan “don’t judge a book by its cover” menjadi makin relevan. Jangan bedakan orang dari apa yang dikenakannya. Boleh jadi, orang yang kita anggap “biasa saja” justru memiliki keluarbiasaan. Nilai manusia memang tidak pernah bisa diukur dari apa yang tampak di permukaan.
Seperti Drama China (Dracin) yang sering kita tonton di layar media sosial, tampaknya siapa pun perlu berhati-hati dalam memberikan penilaian dan bersikap pada orang lain. Boleh jadi orang yang kita remehkan adalah seorang CEO, anekdotnya “dia adalah pewaris kesembilan keluarga Sanjaya”, atau mungkin karyawan kita di kantor adalah CEO yang menyamar.
Kisah Umar bin Khattab, The Real CEO
Dalam sejarah Islam, ada kisah otentik yang diriwayatkan oleh Imam at-Tabari dalam Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk.
Seorang Yahudi tua dari Fustat (Mesir) menempuh perjalanan jauh ke Madinah untuk mengadu kepada Khalifah Umar bin Khattab. Gubuk reyot miliknya, satu-satunya tempat tinggalnya, hendak digusur paksa oleh Gubernur Amr bin ’Ash demi pembangunan masjid atau istana di lahan tersebut.
Dalam bayangannya, Khalifah pasti duduk di istana megah dikelilingi pengawal bersenjata. Namun kenyataan mengejutkan. Ia menemukan rumah Umar yang reyot, tak lebih baik dari gubuknya sendiri. Di pelataran rumah sederhana itu, Umar sedang istirahat di bawah pohon kurma, beralaskan tanah, tanpa pengawalan mewah, seperti rakyat biasa.
Yahudi itu bertanya, “Di mana istana Umar bin Khattab?” Umar menjawab sambil berdiri, “Ini rumahnya. Istananya di atas lumpur dan jerami, pakaian kebesarannya takwa, pengawalnya fakir miskin dan janda yatim.” Yahudi itu terbengong-bengong seolah tak percaya khalifah hidupnya begitu sederhana.
Setelah mendengar pengaduan tanpa memandang rendah Yahudi itu seorang miskin, Umar berkata: “Ambillah sepotong tulang unta dari dekat pohon itu.” Orang Yahudi itu mengambilnya, lalu Umar menggores garis lurus dengan pedangnya. Umar menyuruhnya membawa tulang bergaris itu kepada Amr bin ’Ash. Yahudi itu tampaknya berpikir, jauh-jauh mengadu dari Mesir namun pesan untuk gubernur hanya sepotong tulang saja.
Singkat kisah, Amr bin ‘Ash terkejut melihat tulang dengan goresan pedang Umar, ia gemetar ketakutan. Ia paham itu teguran tegas: “Jadilah lurus dalam keadilan!” Penggusuran segera dibatalkan dan Amr bin ‘Ash diperintahkan membangun ulang rumah itu.
Umar tampak sederhana, tidur di rerumputan tanpa kemewahan padahal ia adalah pemimpin adil yang melindungi hak siapa pun termasuk minoritas. Dari penampilan yang apa adanya, sesungguhnya ia adalah pemegang kekuasaan yang terbentang sepanjang Andalusia hingga Khorasan, dari Maroko hingga Persia.
Kini kita mengenal wilayah kekuasaan Islam tersebut dengan sebutan Spanyol, Portugal, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Irak, Iran, Turkmenistan, Uzbekistan, Afganistan, sampai wilayah sekitar timur laut Iran.
Khalifah Umar tidak kaleng-kaleng. Ia adalah seorang CEO sejati yang menyamar.
Islam mengajarkan kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh penampilan, harta, atau status sosial, melainkan ketakwaannya. Islam mengingatkan manusia agar tidak merendahkan orang lain, sebab bisa jadi orang yang tampak biasa saja justru lebih mulia di sisi Allah. Karena itu, kehati-hatian dalam menilai orang adalah bagian dari adab, sementara menghormati sesama adalah bagian dari iman.***




