Opini

Selamat dari Kematian

Dr. Muhammad E Fuady, M,Ikom (Dosen Fikom Unisba, Pengamat Komunikasi Politik)

PERNAHKAH kita benar-benar merasa berada di ambang kematian? Pada detik-detik ketika hidup akan berakhir saat itu. Manusia biasanya menyadari satu hal paling mendasar, betapa tak berdaya dirinya, dan betapa kuasa-Nya Allah SWT atas hidup dan mati.

Pengalaman semacam bisa hadir dalam sebuah peristiwa dramatis. Kadang ia juga terjadi dalam peristiwa sederhana, pada usia kanak-kanak, tanpa pemahaman teologis yang matang tetapi meninggalkan jejak spiritual yang mendalam sepanjang hidup.

Sekitar tahun 1987, ketika masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, saya sering bermain jauh dari rumah bersama teman-teman. Salah satu tempat favorit kami adalah sebuah curug di kawasan Geger Kalong, Bandung, yang dikenal dengan nama Curug Sigay. Lokasinya dapat ditempuh dengan berjalan kaki melewati area persawahan, dari gang dekat Ponpes Daarut Tauhid lurus saja. Pada masanya, di sana, kiri dan kanan area persawahan terbentang luas.

Dalam perjalanan menuju curug, saya berbagi jajanan yang saya beli ke teman-teman.

Sesampainya di curug, saya menyeberang area sungai yang tingginya sepinggang. Saya duduk di atas sebuah batu besar yang agak miring, tepat di atas aliran sungai. Baru beberapa gigitan menikmati jambu batu itu, tiba-tiba tubuh saya tergelincir. Celana SD yang basah membuat permukaan batu licin. Dalam sekejap, saya jatuh dan terseret arus sungai.

Saya terjatuh dan terbawa aliran air menuju arah air terjun. Saya tidak bisa berenang. Dengan sekuat tenaga, saya berusaha meloncat-loncat, muncul ke permukaan untuk menarik napas, lalu kembali tenggelam, berjuang melawan arus yang jauh lebih kuat dari tubuh kecil saya. Jarak air terjun tinggal beberapa meter.

See also  Enam Etika Mengerjakan Rangkaian Salat Jumat

Pada momen itu, hidup benar-benar terasa berada di ujung tanduk. Ketakutan itu terasa nyata. Bayangan akan jatuh dari air terjun sudah terbayang di pelupuk mata.

Saya hanya ingat satu hal yang keluar dari mulut, “Mamah… Mamah…”. Mungkin saya juga menyebut Allah. Yang jelas ada kepanikan, doa, dan air mata. Bayangan jatuh dari ketinggian air terjun dengan tinggi sekitar dua puluh meter menjadi ketakutan terbesar yang terus menghantui detik demi detik.

Pada saat itulah, sebuah tangan tiba-tiba meraih lengan saya.

Seorang kakek tua, yang kebetulan sedang berada di pinggir sungai, memegang erat tangan saya. Ia berpegangan pada akar-akar rerumputan di tepian sungai dan berusaha menarik tubuh saya dengan seluruh tenaganya. Saya berhasil ditarik ke pinggir sungai. Saya selamat.

Saya masih ingat bagaimana ia tampak begitu tenang di tengah situasi yang bagi saya sangat mencekam. Saya mengucapkan terima kasih dalam keadaan sangat shock. Tak lama setelah itu, saya dan teman-teman langsung pulang.

Pengalaman hampir mati itu tidak saya ceritakan kepada keluarga. Saya menyimpannya rapat-rapat hingga bertahun-tahun lamanya.

Yang terus terngiang dalam ingatan saya adalah satu pertanyaan sederhana, mengapa kakek itu harus berada di tempat itu pada waktu yang sangat tepat. Mengapa saya harus jatuh di sekitar itu. Mengapa pertolongan datang dari kakek itu dalam hitungan detik sebelum segalanya terlambat. Apakah memanggil ibu dalam situasi demikian menjadi wasilah datangnya pertolongan Allah. Apakah berbagi jajanan dengan teman itu menjadj asbab datangnya pertolongan.

See also  Menata Ulang Study Tour: Antara Larangan dan Solusi

Saya tidak pernah tahu jawabannya. Namun semakin dewasa, saya semakin yakin bahwa peristiwa itu bukan kebetulan. Ada skenario Ilahi yang bekerja dengan cara yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh logika manusia. Tuhan menggerakkan sebab-sebab dengan cara-Nya sendiri.

Bagi saya, kakek itu adalah perantara keselamatan. Apakah ia malaikat yang menjelma dalam rupa manusia, atau sekadar manusia biasa yang dipilih Allah pada saat itu, saya tak pernah tahu. Yang jelas, hidup saya berlanjut karena pertolongan yang datang tepat pada waktunya.

Sedekah yang Menolak Bala

Ada sebuah kisah di masa Nabi Isa AS. Diceritakan bahwa sekelompok pemuda pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Dalam perjalanan mereka berpapasan dengan Nabi Isa AS dan para sahabatnya. Nabi Isa memberi isyarat bahwa di antara para pemuda itu ada yang akan tertimpa malapetaka hingga meninggal dunia.

Waktu berlalu. Sekelompok pemuda tadi kembali dari hutan, jumlahnya tetap sama seperti ketika berangkat, tak seorang pun tampak celaka. Mereka memanggul kayu bakar di pundaknya masing-masing dan melintas dengan tenang. Para sahabat Nabi Isa merasa heran karena firasat kematian itu tampak tidak terjadi.

See also  The Science of Hadith

Nabi Isa kemudian meminta mereka berhenti dan meletakkan kayu bakar masing-masing. Satu per satu ikatan kayu dilepaskan. Pada salah satu tumpukan kayu terlihat seekor ular hitam besar melingkar di dalamnya, seolah hendak menerkam pemilik kayu tersebut namun tertahan rantai.

Nabi Isa bertanya, “Amal apa yang kalian lakukan hari ini?”

Salah seorang pemuda berkata bahwa ia membagi sebagian bekalnya untuk pengemis kelaparan. Dari peristiwa itu Nabi Isa menjelaskan bahwa sedekah yang dikeluarkan dengan tulus telah menjadi sebab tertolaknya mara bahaya yang hampir menimpanya.

Kisah ini disebutkan dalam literatur klasik, antara lain dalam Qishash al-Anbiya’ karya al-Tha‘labi serta dikutip dalam karya-karya hikmah seperti ‘Uyun al-Hikayat karya Ibn al-Jauzi. Maknanya sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Sesungguhnya sedekah itu meredamkan kemurkaan Tuhan dan menolak kematian yang buruk. (HR. Tirmidzi)

Selamat dari kematian adalah pelajaran berharga untuk merenungkan kembali kesempatan hidup yang Allah anugerahkan. Tentang setiap napas yang masih diizinkan, hidup yang semestinya dijalani sebaik-baiknya, pentingnya sedekah, dengan kesadaran bahwa tiap detik sangat berharga

Bagi kita semua, kisah ini menjadi pengingat bahwa hidup tidak semata-mata bertumpu pada kekuatan manusia, melainkan merupakan rangkaian rahmat Allah yang senantiasa bekerja melalui cara-cara yang tidak pernah kita duga.***

Show More

Related Articles

Back to top button