Unisba Perkuat Peran Mahasiswa dalam Edukasi Zero Waste
SALAMMADANI.COM -Universitas Islam Bandung (Unisba) menggelar kegiatan Sosialisasi dan Pembekalan Kegiatan Zero Waste di Kecamatan Arcamanik yang dilaksanakan di Aula Utama Unisba, Senin (9/3/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal keterlibatan mahasiswa Unisba dalam upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui socio engineering, yaitu pendekatan edukasi dan rekayasa sosial.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh pimpinan universitas, dosen, serta ratusan mahasiswa yang akan terjun langsung ke masyarakat. Tercatat lebih dari 400 mahasiswa akan terlibat dalam kegiatan ini. Arahan juga disampaikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Dr. Herman Suryatman, M.Si.
Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kolaborasi antara Unisba dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadi momentum penting untuk menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan sampah di masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa Unisba akan ditempatkan di 54 RW di wilayah Arcamanik dengan melibatkan sekitar sepuluh mahasiswa di setiap RW yang didampingi oleh seorang dosen pembimbing. Para mahasiswa tersebut diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam membangun budaya baru di masyarakat terkait pengelolaan sampah.
“Mahasiswa Unisba diharapkan menjadi agen perubahan untuk memperbaiki budaya masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah,” ujarnya.
Rektor juga menegaskan bahwa Unisba telah memiliki komitmen terhadap isu lingkungan sejak beberapa tahun lalu melalui program Clean and Green. Dalam program tersebut, mahasiswa telah dibina untuk melakukan pemilahan dan pengolahan sampah di lingkungan kampus.
Menurutnya, berbagai inovasi juga telah dikembangkan oleh Unisba, termasuk riset yang menghasilkan teknologi reaktor plasma dingin sebagai alternatif pengolahan sampah. Teknologi tersebut telah dipasang di wilayah Arcamanik sebagai bagian dari kontribusi nyata perguruan tinggi dalam membantu pemerintah menangani permasalahan lingkungan.
Selain inovasi teknologi, Unisba juga membangun jejaring penelitian terkait pengolahan food waste dari sektor restoran serta melakukan pendekatan socio-engineering untuk mengubah perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.
“Melalui tiga pendekatan tersebut, yaitu teknologi, jejaring pengolahan sampah makanan, dan rekayasa sosial di masyarakat, kami berharap dapat memberikan solusi yang komprehensif bagi pemerintah,” jelasnya.
Zero Food Waste
Dalam arahannya, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam menjawab persoalan nyata di masyarakat. Ia menyebut kegiatan ini bukan sekadar program pengabdian, tetapi juga sarana pembelajaran kontekstual untuk mengasah kemampuan kepemimpinan mahasiswa.
Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik tetapi juga oleh kemampuan soft skill seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.
“Kuliah di lapangan seperti ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Empat kompetensi itu sangat menentukan kesuksesan di masa depan,” ujarnya di hadapan para mahasiswa.
Ia juga menjelaskan bahwa program ini menargetkan terbentuknya budaya zero food waste di masyarakat, yaitu kondisi di mana sampah makanan tidak lagi dibuang begitu saja, melainkan diolah kembali atau dimanfaatkan secara produktif.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa akan melakukan edukasi kepada masyarakat terkait pengurangan sampah, pemanfaatan kembali sampah, serta pengolahan sampah menjadi produk yang bernilai ekonomi, seperti kompos maupun pakan ternak berbasis maggot.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat, lanjutnya, juga akan mendukung program tersebut melalui berbagai fasilitas, termasuk penyediaan ribuan ember sebagai sarana awal pengelolaan sampah rumah tangga di tingkat RW.(ask/png)***




