Universitas Islam Bandung Kukuhkan 1.200 Lebih Lulusan pada Wisuda Gelombang I 2025/2026
Pelaksanaan wisuda berlangsung selama dua hari dalam tiga sesi, yakni dua sesi pada hari pertama dan satu sesi pada hari kedua. Para wisudawan berasal dari berbagai fakultas dan program studi di lingkungan Unisba.
Rektor Unisba, A. Harits Nu’man, menegaskan bahwa wisuda merupakan momentum penting dalam perjalanan akademik, namun bukanlah akhir dari proses belajar. Menurutnya, wisuda menjadi langkah awal bagi lulusan untuk mengabdikan diri kepada masyarakat, bangsa, dan agama.
Ia menyampaikan bahwa lulusan Unisba diharapkan tidak hanya unggul dalam capaian akademik, tetapi juga memiliki keseimbangan kecerdasan spiritual, intelektual, sosial, dan fisik. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, serta arus globalisasi, para alumni dituntut untuk terus belajar, adaptif, dan inovatif agar tetap relevan serta kompetitif.
Rektor juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas, loyalitas terhadap almamater, serta membangun kemandirian melalui prinsip 3M: mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai dari sekarang.
Sebagai bentuk penghargaan atas prestasi akademik, Unisba kembali memberikan apresiasi kepada lulusan terbaik, tercepat, dan termuda. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi seluruh mahasiswa untuk terus berprestasi.
Dalam kesempatan tersebut, rektor menegaskan komitmen Unisba sebagai kampus yang terbuka dan menjunjung tinggi prinsip kesetaraan. Kehadiran wisudawan nonmuslim mencerminkan bahwa Unisba tidak membedakan latar belakang suku, agama, maupun ras. Keberagaman ini memperkuat jati diri Unisba sebagai perguruan tinggi Islam yang berlandaskan nilai rahmatan lil ‘alamin.
Kesiapan Karier dan Penguatan Kompetensi Global
Rektor turut menyampaikan bahwa lulusan Unisba memiliki kesiapan karier yang baik. Sejumlah alumni telah bekerja, berwirausaha, maupun direkrut melalui program magang yang difasilitasi kampus, termasuk peluang magang internasional guna meningkatkan kompetensi global.
Unisba, lanjutnya, memberikan ruang yang sama bagi seluruh mahasiswa tanpa paksaan dalam hal keyakinan. Namun seluruh mahasiswa tetap mengikuti norma akademik yang berlaku, termasuk kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) selama tujuh semester serta dua program pesantren, yakni pesantren mahasiswa dan pesantren sarjana.
Ketua Badan Pengurus Yayasan Unisba, Miftah Faridl, menyampaikan bahwa lahirnya para sarjana merupakan indikator penting kemajuan peradaban bangsa. Ia mengajak lulusan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT, berbakti kepada orang tua, serta menjadikan ilmu sebagai sarana pengabdian kepada masyarakat.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Lukman, mengingatkan para lulusan agar siap menghadapi persaingan dunia kerja dan tantangan perkembangan teknologi. Ia mendorong lulusan untuk bersikap adaptif, inovatif, serta terus meningkatkan kompetensi diri.
Ia juga menekankan pentingnya menjunjung profesionalisme, integritas, sikap transformatif, kemampuan beradaptasi, dan sikap realistis dalam menapaki perjalanan karier dan pengabdian di tengah masyarakat.(ask/png)***




